Aku Dan Muridku (Part 1)

Hai perkenalkan namaku Rina.Aku seorang guru di sekolah dasar yang terletak di sebuah kampung kecil yang cukup jauh perkotaan.Aku sebenarnya bukan penduduk asli kampung ini.Aku aslinya lahir dan tumbuh besar di kota.Namun tepat 3 tahun lalu setelah aku menamatkan pendidikanku,aku memberanikan diri merantau ke desa kecil ini.Aku tinggalkan hingar-bingar kemewahan kota demi mewujudkan impianku,yaitu mengajar dan memberi ilmu ke anak-anak yang ada di pelosok.Awalnya aku sadar kalau hidup di kampung dengan kota itu pasti jauh berbeda,tapi kembali lagi itu semua mimpiku yang aku ingin lakukan dari dulu.Dan aku yakin aku bisa melalui itu semua.Hingga suatu saat ada kesempatan yang diberikan dari kampusku.Mereka memintaku menjadi tenaga pengajar di kampung ini.Lalu karena mimpiku yang cukup besar itu,aku langsung terima tawaran mereka.Tapi semenjak awal datang kesini,memang tak mudah diriku membiasakan diri dengan kehidupan yang sangat jauh berbeda dengan di kota.Berbeda dengan kota,hidup di desa menuntut diriku menjadi sosok yang harus belajar hidup sederhana.Membayangkan saja sudah sulit,apalagi setelah aku alami ternyata jauh lebih sulit lagi.Tapi aku tidak menyerah,karena dibalik kesulitan yang aku dapat,aku selalu punya penawar itu semua,yaitu impianku sendiri.Hingga akhirnya setelah jalan berapa bulan,aku pun mulai terbiasa dan bahkan menikmati hidup disini.


“Selamat pagi anak-anak,,,”


“Selamat pagi Ibu guru,,,,”


Sebuah ucapan yang membuat mimpiku menjadi kenyataan.Aku sungguh sangat senang bisa menjadi guru bagi anak-anak ini.Apalagi melihat wajah-wajah mereka yang begitu bersemangat mencari ilmu,membuatku ikut semangat juga membimbing mereka.


“Nah anak-anak,,kita mulai ya,,sekarang kalian buka buku LKS kalian,,terus buka halaman 4,,”


“Iya Bu,,” jawab mereka kompak.


Aku mulai melakukan tugasku,memberikan ilmu kepada murid-muridku.Aku mendapat amanah dari sekolah sebagai guru sekaligus sebagai wali murid bagi murid-muridku di kelas 4 yang berisi 20 murid.Berbeda dengan sistem pendidikan di kota,disini untuk setiap tingkat kelas hanya ada 1 guru yang ditugaskan untuk masing-masing kelas,dan guru tersebut juga merangkap sebagai wali kelas.Jadi dengan kata lain aku mengajar murid-muridku ini dari mereka kelas 1 hingga mereka lulus.Otomatis juga karena kelas ini hanya cuma 1 guru untuk mereka,aku juga harus mengajar dan mengusai seluruh mata pelajaran yang diajarkan.Melelahkan memang,tapi karena di kampung ini juga kekurangan tenaga pengajar,aku mau gak mau harus melalui itu semua,toh ini semua kan mimpiku.Apalagi setelah melihat antusias anak-anak didikku belajar,rasa lelah itu seketika sirna.


4 jam tak terasa aku mengajar,bel jam pulang akhirnya berbunyi.Murid-muridku tampak senang mendengar bel pulang berbunyi,aku paham mereka ingin segera bermain setelah berjam-jam belajar.Aku gak permasalahan hal itu,aku pun mengerti.Di umur sekecil mereka,rasa keinginan bermain mereka masih sangat tinggi.Aku malah bangga dengan mereka,karena kalau aku bandingkan dengan anak-anak seumur mereka yang hidup di kota,mereka masih mau mengikuti pelajaran yang aku ajarkan,apalagi tingkat semangat mereka tetap tinggi saat belajar maupun bermain.


Setelah mereka merapihkan alat tulis dan buku,mereka berbaris secara teratur lalu maju satu-persatu mendekatiku sekaligus memberi salam untuk pulang.Satu-persatu anak maju lalu mencium bibir dan pipiku dan begitu pula diriku melakukan hal yang sama ke mereka tanda kami memberi salam untuk berpamitan.Setelah selesai memberi salam,mereka langsung dengan semangat berlari keluar kelas seakan ingin langsung bermain.Tapi ada satu anak yang tampak berbeda dari teman-temannya,ia keluar dari kelas dengan langkah pelan dan kepala yang sedikit tertunduk.Aku yang melihat itu langsung menghampirinya.


“Dani,,kamu kenapa,,??”


Dia menoleh keatas menatapku.Aku lihat wajahnya yang sempat murung namun langsung ia ubah mencoba tersenyum dihadapanku.


“Gak apa-apa Bu,,”


“Maaf Bu,,aku pulang duluan ya Bu,,”


Dia lalu pergi berjalan pulang menuju ke rumahnya.Namun ada satu hal mengganjal dalam pikiranku.Apa dia benar-benar tidak apa-apa.Ingin aku mengejarnya,tapi aku masih ada acara rapat seusai jam pulang yang harus aku hadiri.Aku pun hanya bisa berharap yang dia katakan itu benar.


Beginilah hidupku,berbeda dengan muridku yang setelah jam pelajaran usai langsung bisa pulang,aku sebagai guru harus terus berkutat di sekolah lebih lama,apalagi kali ini waktunya sudah mulai berdekatan dengan ujian kenaikan kelas.Kurang lebih 2 jam,para guru berkumpul di ruang guru membahas agenda ujian bagi para murid.Tapi kalian tau sendiri lah,hidup di dunia abnormal seperti ini ujung-ujungnya gak jauh kemana lagi kalau bukan seks.Diruang guru,kami saling berdiskusi dan saling bertukar ide membahas wacana tapi disisi lain kami juga saling bertukar kepuasan seksual satu sama lain.Kemudian setelah rapat selesai dan kami juga selesai memuaskan nafsu masing-masing,kami pun baru bisa pulang.Dan aku setelah menghadiri rapat,aku selalu langsung pulang.Badanku selalu lelah sekali setiap usai rapat,karena setiap rapat bukan hanya pikiranku saja yang capek dituntut berpikir,tapi badanku juga turut bekerja memuaskan guru-guru lainnya.


Aku pulang ke rumah sambil berjalan kaki.Dengan sisa tenagaku,aku melangkah pulang,untung tempat tinggalku lumayan dekat dengan sekolah.Dalam perjalanan pulang,ada saja orang yang mengajakku untuk 'bermain' sejenak,namun aku tolak halus ajakan mereka,dan syukurlah mereka mengerti.Padahal misalpun mereka bisa saja memaksaku buat 'main',tapi aku salut dengan masyarakat disini,mereka masih menjunjung tata krama,berbeda jauh dengan orang-orang kota yang terkesan tak perduli,apalagi kalau sudah konak pasti mereka gak segan memaksa dan memperkosa perempuan dengan ganas tak perduli kondisi korbannya.Aku langkahkan kakiku hingga tak terasa aku sampai di rumah kecilku.Aku langsung menghempaskan badanku keatas kasur dan langsung terlelap.Tidurku sangat lelap sampai tak terasa pagi menjelang.Kubuka mataku dan aku bangun dengan kondisi yang kembali bugar,lalu aku siap memulai hari kembali.


Singkat cerita,dengan rutinitasku yang sama,tanpa terasa waktu ujian tengah semester pun tiba.Aku mengawasi langsung jalannya ujian murid-muridku.Mereka tampak serius mengerjakan soal yang telah aku berikan.Satu-persatu anak aku awasi dengan teliti,walau mereka masih anak kecil,aku tidak mau mereka bertindak curang.Hingga waktu ujian habis,mereka tetap tertib dalam mengerjakan ujian.Satu minggu penuh muridku sudah melaksanakan ujian tengah semester,kini waktuku yang bekerja.Aku me-review dan sekaligus menilai jawaban dari murid-muridku.Hasilnya hampir semua muridku meraih hasil diatas rata-rata,hanya sebagian kecil saja yang harus diperbaiki.Namun ada 1 nama yang membuatku heran.Nilai semua mata pelajaran yang ia kerjakan hasilnya jauh dibawah yang aku harapkan.Dan yang tambah bikin aku heran,setau aku Dani tak pernah sekalipun nilainya jelek,bahkan dia termasuk anak yang cukup pintar di kelasku.Melihat hasil yang diraih muridku,membuatku cukup merasa bersalah.Sebagai guru,aku tak mampu menjadi guru yang mendidik dengan baik anak muridku sendiri.Aku ingin seluruh muridku dapat menjadi murid yang bisa dibanggakan.Aku harus bertindak.


Esok harinya,aku kembali mengajar normal.Sambil aku menerangkan materi ke anak-anak,aku sesekali memperhatikan Dani.Dia tampak biasa sambil mendengar penjelasan materi yang aku berikan.Tidak ada tanda-tanda aneh yang ia tunjukkan,semua tampak normal seperti biasanya.Tapi aku masih heran kenapa dia bisa mendapat nilai buruk sedang dia tampak serius dalam belajar.Kayaknya ada hal lain yang membuat prestasinya berubah.Bel istirahat berbunyi,ini kesempatanku bertanya langsung padanya.Disaat anak-anak lain saling bermain,aku lihat dirinya tengah duduk sendiri.Aku menghampirinya.


“Dani,,kamu gak main sama teman-teman kamu,,??” kataku sambil duduk disebelahnya.


“Enggak Bu,,”


Dia memandang namun dengan tatapan kosong.


“Dani,,Ibu mau bicara sama kamu,,”


Aku menghela nafas sejenak.


“Ibu perhatikan semua nilai ujian kamu jauh menurun,,Ibu mau tanya,,apa kamu kesulitan ngerjain soal yang Ibu kasih,,??”


“Enggak Bu,,aku bisa ngerjain kok,,”


Dia menjawab pertanyaanku,namun sorot matanya berpaling dariku.


“Kamu paham soal yang Ibu kasih,,??”


“Paham Bu,,”


Tiba-tiba kepalanya tertunduk dan sedikit membelakangiku.


Aku yang melihat itu,merasa ada yang salah.


“Kamu gak apa-apa sayang,,?? Kamu kalau ada masalah,,cerita aja sama Ibu,,” kataku sambil mengelus halus pundaknya.


“Aku gak apa-apa Bu,,maaf Bu,,aku mau main dulu,,” ucapnya meninggalkanku tanpa sedikitpun melihat kearahku.


Aku kaget dia berlalu pergi menjauh dariku.Apa yang aku ucapkan padanya menyinggung perasaannya?.Aku tak tau isi hatinya.Aku bukan cenayang.Tapi aku tau,ada sesuatu yang dia sembunyikan,dan aku bisa rasakan itu.


Hari demi hari pun berlalu,aku pun terus berusaha untuk mengetahui isi hati Dani.Tapi usaha yang aku lakukan selalu gagal.Dia terus menjauhiku.Segala cara sudah aku lakukan,tetapi dia tetap bungkam dan malah sifatnya kian berubah.Dia menjadi lebih banyak diam dan semakin menjaga jarak denganku.Aku jadi merasa bersalah melihatnya seperti itu.Apa dia benci padaku?.Kalau dia memang benci padaku,apa penyebab nya?.Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.Tapi selain itu,ada hal lain yang buat aku cemas,yaitu nilai akademisnya.Aku tak masalah jikalau dia memang benci padaku,tapi aku gak mau dia tidak semangat belajar karena membenci diriku.


Sadar setiap yang aku lakukan tak membuahkan hasil,tiba-tiba aku berpikir menanyakan hal ini ke keluarganya langsung.Aku akan datang ke rumahnya,tapi aku sadar,kalau aku datang bersama dia,dia pasti jelas-jelas akan menolakku,dan kalau aku datang ke rumahnya,dia pasti juga akan melarangku masuk.Aku harus berfikir bagaimana caranya agar bisa bertemu langsung dengan orang tuanya.Disaat kebingungan itu aku mendapat ide.Bagaimana kalau aku kasih saja mereka tugas kelompok.Aku suruh murid-muridku untuk mengerjakan tugas rumah namun mereka aku bagi kedalam beberapa kelompok,lalu aku atur juga tempatnya.Aku sengaja menaruh Dani kedalam kelompok yang sudah aku atur.Aku setting agar Dani mengerjakan tugas itu di rumah temannya.Dan aku juga bilang ke mereka kalau tugas ini besok harus sudah selesai,otomatis mau gak mau mereka harus segera mengerjakan tugas yang kuberikan.Setelah semua berjalan dengan kemauanku,jam pulang sekolah pun berbunyi.Mereka langsung pulang berkelompok sesuai arahanku sebelumnya.Aku perhatikan Dani melangkah pergi bersama temannya.Dan setelah aku pastikan dia pergi,aku pun langsung pergi ke rumahnya.Beruntung arah yang Dani dan aku lalui berbeda sehingga aku dengan mudah pergi ke rumahnya tanpa ketahuan.


Setelah berjalan kaki,akupun sampai dirumah Dani.


“Permisi,,”


Cukup lama kuketuk pintunya dari pelan hingga agak keras baru ada balasan.


“Ya,,siapa ya,,??” jawab suara dari dalam rumah.


Kok suaranya asing bagiku.Karena setahuku suara ayahnya Dani tidak begitu.


“Saya Rina,,gurunya Dani,,”


“Siapa,,??”


“Rina Pak,, gurunya Dani,,”


“Oohh,,masuk aja Nak,,”


Dengan izinnya,aku membuka pintu.Dan pas pintu terbuka,ada seorang kakek-kakek yang tengah duduk di atas sofa.


“Permisi Mbah,,maaf ganggu,,”


“Silahkan masuk,,maaf ya Nak,,Mbah lagi sakit punggung jadi gak bisa bangun,,”


Aku pun melangkah masuk.


“Iya gapapa Mbah,,maaf kalau saya mengganggu,,”


“Gapapa Nak,,Silahkan duduk dulu,,”


“Terima kasih Mbah,,”


Aku pun duduk di sofa tepat di seberangnya.


“Maaf Nak,,Nak Rina ya namanya tadi,,maaf ya Nak,,Mbah gak bisa bikinin minum,,Mbah lagi sakit,,”


“Aduh,,gapapa Mbah,,saya cuma sebentar kok disini,,”


“Owh,,kalau begitu ada apa ya Nak Rina kesini,,??”


“Saya mau ketemu sama orangtuanya Dani Mbah,,”


“Orangtuanya Dani,,??”


Aku rasa kakek ini sudah rada tuli,jadi otomatis aku agak sedikit meninggikan suaraku.


“Iya Mbah,,”


“Ohh,,orang tuanya sudah gak tinggal disini lagi Nak,,”


“Ohh,,begitu ya Mbah,,maaf Mbah,,Mbah ini kakeknya Dani,,??”


Dia sejenak diam sambil menyerutkan dahinya.


“Maaf Nak,,Mbah kurang dengar,,Nak Rina bisa kesini,,duduk disamping Mbah biar Mbah bisa dengar,,”


Aku pindah posisi dudukku kini tepat disampingnya.Ternyata pendengarannya memang sudah kurang.Padahal tadi aku duduk diseberangnya,itu pun cuma berjarak 1 meter.Untung dia menawariku duduk disampingnya,repot juga kalau berbincang seperti ini.


“Maaf Nak Rina ngomong apa tadi,,??”


“Maaf Mbah,,Mbah ini kakeknya Dani,,??”


“Ohh,,iya,,saya Mbahnya Dani,,nama saya Karyo,,” katanya sambil mengulurkan tangannya.


Aku membalas menjabat tangannya.


“Eee,,maaf Nak Rina,,Mbah boleh pegang teteknya Nak,,??”


Astaga,pantas aku disuruh pindah disampingnya.Rupanya dia sudah mengincar buah dadaku.Pantas sejak tadi dia sering curi-curi pandang ke arah buah dadaku.Memang dasar laki-laki,hormon testosteronnya langsung aktif kalau ketemu lawan jenis.Padahal kami berdua juga baru bertemu beberapa detik yang lalu.


“Silahkan Mbah,,” jawabku pasrah.


Tangannya yang sebelumnya memegang tanganku langsung pindah hinggap di payudaraku.


“Nak Rina,,ada perlu apa mau ketemu sama orangtuanya Dani,,Dani buat masalah ya Nak,,??”


“Eee,,enggak Mbah,,eee,,sebenarnya gimana ya saya ceritanya,,”


“Besar masalahnya ya Nak,,??” tanyanya sambil terus meremas payudaraku.


“Gimana ya Mbah,,saya sebenarnya gak enak ceritanya,,”


“Cerita aja Nak gapapa,,atau gini aja,,Nak Rina ceritain masalahnya sambil tetek Nak Rina Mbah isep biar Nak Rina ngomongnya enak,,”


Belum sempat aku membalas,dia sudah mulai membuka kancing bajuku.Dan hanya hitung detik dia sudah membuatku bertelanjang dada.


“Nah Nak Rina cerita sambil Mbah isep ya teteknya,,”


Dia langsung mencaplok puting susuku tanpa aba-aba dariku.Dia mengisap putingku dengan giginya sudah rada ompong itu.Baru kali ini aku rasakan sensasi seperti ini.Aku bisa rasakan gusi dan giginya saling bergantian menggigit halus puting susuku.Dan karena menerima servis seperti itu,entah kenapa tubuhku mulai rileks.Benar juga kata Mbah Karyo,aku pun mulai bisa memulai omonganku.Awalnya aku takut bercerita soal Dani ke Mbah Karyo secara langsung,aku takut Mbah Karyo jadi stress apalagi diusianya seperti ini.Lalu perhalan-lahan aku mulai bercerita soal Dani ke Mbah Karyo.Aku mulai cerita dari awal sampai ke inti masalahnya.Dalam ceritaku,aku sesekali melirik Mbah Karyo yang terus bermain dengan payudaraku,aku masih khawatir dia tiba-tiba kaget mendengar keluh kesahku.Tapi untunglah dia masih tenang sambil terus bermain dengan buah dadaku.


“Jadi begitu Mbah alasan saya datang kesini,,” kataku menutup keluh kesahku soal Dani kepadanya.


“Ohh,,jadi gitu Nak,,”


“Mbah gak tau kalau prestasi Dani bisa jadi menurun begitu,,”


“Kira-kira Mbah tau penyebabnya,,??”


“Mbah sebenarnya gak tau persis apa sebabnya karena Dani sendiri gak pernah bilang langsung ke Mbah,,tapi mungkin ini soal Dani sama orangtuanya,,”


“Maaf Mbah,,saya boleh tau soal apa itu,,??”


“Boleh,,tapi sebelum Mbah cerita,,Mbah minta tolong ke Nak Rina bisa,,??”


“Apa Mbah,,??”


“Bantu Mbah ngeluarin peju pake mulut kamu,,” katanya berbisik di telingaku.


Aku tau dia akan berkata itu.Aku gak punya pilihan lain,karena selain aku butuh info darinya,diriku juga sudah dipuaskan olehnya sebelumnya.


“Iya Mbah,,saya bantu,,”


Dia tersenyum mendengar ucapanku.


“Makasih ya Nak,,”


“Iya Mbah sama-sama,,”


“Maaf ya Mbah,,Mbah duduknya senderan aja ya,,biar gak sakit,,”


Aku pun langsung memperbaiki posisi duduk Mbah Karyo dengan hati-hati.Aku senderkan punggungnya ke sofa agar dia tidak merasa pegal,apalagi sedari tadi dia duduk sambil bertumpu dengan tongkat kayunya.Dan setelah dia merasa nyaman dengan posisinya,aku lalu mulai membuka sarungnya.


“Maaf ya Mbah,,angkat sedikit pantatnya ya,,”


Perlahan dia mengangkat pinggulnya,agar aku bisa membuka sarungnya.Dia meringis kesakitan saat pinggulnya diangkat.Melihat Mbah Karyo menjerit,aku langsung dengan cepat membuka lipatan dan menurunkan sarungnya.Setelah sarungnya terbuka,tampak penis Mbah Karyo berdiri tegak dihadapanku.Rupanya dia sudah ereksi sedari tadi.Untung dia hanya memakai sarung,karena kalau dia pakai celana atau celana dalam,mungkin dia juga akan merasa sakit pada penisnya karena menahan ereksi.


Setelah Mbah Karyo sudah merasa nyaman dengan posisinya dan kontolnya juga sudah bebas,aku langsung mengambil posisi duduk bersimpuh dihadapannya.


“Saya isep ya Mbah,,Mbah santai aja sambil cerita,,”


Tanganku mulai meraih kontolnya lalu aku kocok perlahan,sambil biji pelernya aku hisap.Kemudian Mbah Karyo mulai bercerita sambil sesekali mengeluh pelan karena penisnya aku oral.


“Jadi awalnya begini Nak,,Dani itu cucu Mbah dari anak Mbah yang paling bungsu,,namanya Wati,,nah waktu Wati masih SMP,,dia dilamar menantu Mbah yang namanya Yono,,dan gak lama mereka menikah,,tapi gak lama setelah mereka nikah,,Yono ijin ke Mbah mau merantau ke J*karta katanya mau usaha jualan,,akhirnya Wati ditinggal disini karena waktu itu juga dia masih sekolah,,selang setahun Wati cerita ke Mbah katanya suaminya lagi dililit hutang,,terus Mbah tanya balik ke Wati gimana solusinya,,karena sebelumnya Mbah sudah coba mau bantu suaminya,,tapi dia nolak,,katanya dia gak mau ngerepotin Mbah,,dan akhirnya dia ambil inisiatif mau ikut merantau ke J*karta,,tapi sebagai orangtuanya,,Mbah sebenarnya berat ngelepas Wati,,apalagi anak-anak Mbah udah pada nikah dan gak tinggal disini lagi,,tapi disisi lain Mbah kasihan sama Wati,,Mbah udah sempet suruh Wati minta cerai ke Yono tapi dia gak mau,, akhirnya setelah Wati tamat SMP,,dia ngerantau susul suaminya,,mulai sejak itu Mbah udah gak tau lagi kabar Wati sampe 3 tahun kemudian tiba-tiba Yono pulang bawa anak bayi,,Mbah sempat tanya ke dia,,itu anak siapa?,,kata dia itu anak Wati sama majikannya,,”


“Slruppp,,ahh,,anak itu Dani Mbah,,?? Slurrrppp,,,” tanyaku sambil terus mengoral penisnya.


“Iya Nak,,itu Dani,,terus Mbah tanya ke Yono,,bagaimana bisa Wati punya anak dari orang lain,,dia cerita dari awal,,pas awal Wati datang ke J*karta,,Wati sempat nemenin Yono jualan bakso bareng,,tapi karena utang yang sudah membengkak,,Wati terpaksa harus kerja juga,,dan kebetulan ada pasutri langganannya Yono yang mau bantu,,dia nawarin Wati buat jadi pembantu dirumahnya,,dan karena kebutuhan,,Wati setuju,,tapi kamu tau sendiri kan Nak resiko jadi pembantu,,kebanyakan jadi budak seks majikannya,,”


“Sllurrrpp,,gllegg,,sllurrrpp,,Mbah marah Wati jadi pembantu,,?? Sluurppp,,,”


“Mbah gak marah Nak,,Mbah malah bangga,,tubuh anak Mbah ada suka,,cuma Mbah khawatir aja,,kalau sampai kebablasan,,Mbah gak mau Wati ganggu hubungan rumah tangga orang,,karena Mbah dulu titip pesen sama Wati,,kalau dia mau ngentot sama suami orang,,jangan bawa perasaan,,cukup pakai nafsu aja,,”


“Sshhh,,ahhh,,Nak,,tolong ya kalau isep biji Mbah jangan kenceng-kenceng,,ngilunya sampe punggung soalnya,,”


“Maaf Mbah,,saya kelepasan,,soalnya kontol Mbah enak banget hihi,,”


Astaga,aku sampai gak sadar kalau seponganku membuatnya gak nyaman.


“Haha,,pelan-pelan aja Nak,,Mbah masih mau nikmatin sepongan kamu lebih lama,,haha,,yaudah lanjut lagi Nak,,” katanya sambil menyentuh kepalaku tanda aku disuruh lanjut mengoral penisnya.


Aku kembali lagi menyepong kontolnya namun dengan tempo yang agak pelan.


“Mbah lanjut ya,,”


“Akhirnya Wati kerja sama majikannya,,sambil Yono lanjut jualan,,awalnya Wati masih bisa pulang nemenin Yono,,tapi setelah 2 minggu,,majikan Wati bilang ke Yono,,nyuruh Wati gak boleh pulang,,soalnya dia lagi ketagihan sama memeknya Wati,,tapi Yono agak keberatan,,soalnya gak ada yang bantu dia jualan,,tapi majikannya Wati nawarin bakal ngasih gaji lebih ke Wati sama kasih modal buat Yono,,karena dia bilang begitu,,akhirnya Yono nerima,,nah abis itu semua berjalan normal sampai sebulan kemudian,,Wati hamil,,terus Yono sama Wati diajak diskusi sama majikannya,,buat bahas janinnya Wati,,majikannya Wati tanya ke Yono mau terima anak itu atau nggak,,Yono bilang agak berat soalnya ini anak pertama dia,,tapi majikannya Wati bilang bakal tanggung seluruh biaya hidup anak itu,,disisi lain Wati juga pengen anak itu,,tapi dia juga sebenarnya gak enak,,soalnya anak pertama dia bukan dari suaminya,,cuma karena majikan dia udah sering ngebantu dia,,jadi Wati ngerasa gak enak sama majikannya,,ngedenger itu Yono akhirnya luluh,,abis itu mereka semua diskusi masalah ini biar makin jelas,,majikan Wati ngasih syarat ke Yono,,yaitu Wati harus kerja sama dia sampai anak itu lulus SD,,dan selama waktu itu,,Yono gak boleh ngentot sama Wati,,alasannya sebagai ganti biaya hidup anak itu,,dan seandainya nanti Wati hamil lagi selama masa itu,,itu jadi tanggung jawab Yono,,tapi majikannya Wati bakal kasih bantuan uang modal setiap Wati bunting lagi,,jadi istilahnya untuk sementara tubuh Wati jadi properti keluarga majikannya,,dan Yono juga ngasih syarat,,kalau majikan Wati gak boleh menikahi Wati dan gak boleh menikahkan atau menjual Wati dengan siapapun,,dan setelah semua setuju akan syarat masing-masing,,akhirnya mereka sepakat ngejalanin perjanjian itu,,”


“Semua berjalan normal sesuai perjanjian sampai Dani lahir,,terus karena dalam perjalanan Dani semakin besar dan usaha jualan Yono makin menurun,,Wati nyuruh Yono buat pulang kampung,,dia bilang kalau lebih baik ngurus Dani disini ketimbang di kota,,sekaligus ngurusin Mbah juga,,Yono juga gak punya pilihan lagi,,karena dia sadar kalau usahanya gak maju,,akhirnya dia pulang dan ngurus Dani dan Mbah disini,,”


Pantas aku gak pernah lihat Ibunya Dani,ternyata ini rupanya.


“Terus yang Nak Rina cerita sebelumnya,,mungkin gara-gara sebulan yang lalu Yono baru cerita hal ini ke Dani,,mungkin dia marah sama bapaknya,,ditambah sekarang Yono balik lagi ke J*karta buat nemenin Wati yang mau ngelahirin anaknya yang ketiga,,”


Oh mungkin,Dani merasa kecewa sama orangtuanya.Akhirnya aku tau penyebab kenapa dia tiba-tiba berubah.Tapi aku belum tau persis apa yang ada didalam hatinya sampai dia begitu kecewa sama orangtuanya.Aku memang harus tanyakan hal ini langsung ke Dani.


“Jadi begitu Nak ceritanya,,shhh,,ahhh,,Nak,,sepongan kamu enak banget,,shhh,,Mbah,,udah gak tahan,,”


“Sllurrrpp,,Mbah,,saya cepetin ya,,gleggg,,,slurrrppp,,sepongannya,, slruppp,,” kataku mulai mempercepat tempo blowjobku.


“Iyyaahh,,Nak,,ahhh,,”


Tak lama,tubuh Mbah Karyo mulai bergetar.


“Nak,,Mbah,,ahhh,,mau keluar,,ahhh,,ahhhhhh,,,”


‘Crott,,crottt,,,,!!!’


Mbah Karyo mengerang menembakan spermanya ke mulutku.Tubuhnya terangkat akibat ejakulasi.Tapi seusai beliau mengeluarkan peju terakhirnya, tiba-tiba Mbah Karyo berteriak.


“AAAAAA,,,!!!”


Mbah Karyo langsung memegang punggungnya.Aku yang melihat itu langsung panik,bahkan pejunya yang masih berkumpul dimulutku jatuh ke lantai belum sempat aku telan.


“Kenapa Mbah,,??” tanyaku panik.


Mbah Karyo meringis menahan sakit sambil terus memegangi punggungnya.Aku pun bingung harus bagaimana.Akhirnya aku cuma bisa bantu memijit bagian pinggangnya karena posisi punggungnya menempel dengan sofa.Aku pijat otot-otot pinggangnya yang ternyata sedang mengeras.Perlahan aku pijat hingga dia mulai merasa enakan.


“Maaf ya Mbah,,gara-gara saya Mbah kesakitan,,” kataku sambil memijat pinggangnya.


“Gapapa Nak,,kamu gak salah,,emang Mbah aja yang sudah tua,,”


Aku terus memijat pinggangnya.


“Sudah Nak,,sekarang Mbah minta tolong di bersihin kontol Mbah dari sisa peju,,terus pakein lagi sarung Mbah,,”


Aku bersihkan sisa peju yang masih melekat di penisnya dan juga pejunya yang jatuh di lantai dengan tisu,lalu aku bantu beliau memakai sarungnya kembali.


“Mbah mau saya bantu buat duduk lagi,,??”


“Gak usah Nak,,biar nanti sama Dani saja,,Mbah masih capek,,oh iya,,Dani jam segini kok belum pulang ya,,??” katanya sambil melihat jam yang ada di dinding.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.Lama juga aku melayani Mbah Karyo.


“Dani tadi saya suruh ngerjain tugas di rumah temannya Mbah,,saya sengaja biar saya bisa datang kesini,,karena kalau ada Dani disini,,takutnya dia bakal marah ke saya,,”


“Oh begitu rupanya,,”


“Yaudah kalo begitu,,saya izin pamit ya Mbah,,terimakasih atas bantuannya Mbah,,”


“Iya sama-sama Nak,,Mbah juga terimakasih,,kontol Mbah udah disepong sama kamu,,sejak Mbah sakit,,Mbah udah lama gak ngecrot,,”


“Sama-sama Mbah,,”


“Seandainnya saja Mbah lagi sehat sekarang,,kamu udah Mbah entot ya Nak hehe,,”


“Bisa aja Mbah hehe,,”


“Nak,,nanti begitu Mbah udah sehat,,Mbah mau coba ngerasain memek kamu boleh ya,,??”


“Boleh Mbah,,yang penting Mbah jaga kesehatan terus ya,,dan jangan terlalu banyak pikiran,,soal masalah Dani,,saya bakal bantu selesaikan,,jadi Mbah jangan khawatir,,” kataku sambil kembali mengacingkan bajuku.


“Makasih ya Nak,,saya titip Dani ya Nak,,tolong bantu dia,,karena dia itu anak yang baik,,”


“Iya Mbah,,pasti akan saya bantu,,”


“Saya permisi dulu ya Mbah,,”


Aku mencium bibirnya lalu mengecup selangkangannya tanda hormatku ke orang yang lebih tua.


“Oh ya Mbah,,tolong jangan bilang ke Dani kalau saya datang kesini ya,,”


“Iya Nak,,Mbah gak akan bilang,,soalnya Mbah cuma ingat kalau Mbah abis disepong sama bidadari hehe,,”


“Ah Mbah bisa aja hihi,,”


Kami pun tertawa.


“Saya pulang ya Mbah,,”


“Hati-hati ya Nak,,”


“Iya Mbah,,”


Aku pun pulang ke rumahku.


Komentar

  1. Mantep emang abnormal universe, kalau disini kan lebih bebas hu, incest sama underage harusnya gak masalah kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih baik dari situs sebelah 😁✌️

      Hapus
    2. Mantep hu, di tunggu cerita "bebas" nya, abnormal memang harusnya gak ada batasan wkwkkw

      Hapus
  2. Mantep mantep mantep

    BalasHapus
  3. Mantap nih, lanjut lagi lah abnormal nta

    BalasHapus
  4. Mantep sih panjang banget juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang yang panjang lebih enak πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
  5. Ditunggu Bu Rina main sama Dani gan

    BalasHapus
  6. Bu guru Rina lama aku menunggu dirimu bu

    BalasHapus
  7. Bu guru udah 3 bulan ibuk menghilang πŸ₯²

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Dewasa

Puasa