Saya Belum Pensiun!!!

‘Mungkin ini waktunya'


Kalimat itu selalu terbayang dipikiran saya akhir-akhir ini.Kalimat yang seakan memaksa saya untuk berpikir realistis.Membuat saya untuk menerima keadaan.Keadaan dimana saya memang tak bisa lagi mengikuti zaman.Keadaan dimana saya sudah tak bisa lagi berkompetisi di lingkungan yang saya jalani sekarang ini.Apalagi bersaing di dunia yang super cepat ini,saya sudah tak bisa lagi mengejarnya dengan tubuh renta ini.Kini modal saya hanyalah pengalaman,dan cuma hal itu yang membuat saya bertahan.Dan mungkin kalo bukan karena itu,saya bisa saja hanya menjadi laki-laki tua yang hidup di panti jompo sekarang.


“Pak Rudi,,berapa kali saya bilang ke Bapak,,kalo kinerja Bapak masih kayak gini terus,,kita bisa-bisa kehilangan klien lagi,,!!”


“Ini sudah beberapa kali Pak,,”


“Jadi Bapak kalo memang sudah gak bisa,,mending resign atau ambil pensiun saja lah Pak,,!!”


Sedih rasanya mendapat teguran dari atasan sendiri.Tapi saya tak bisa menampik,toh memang kesalahan itu murni dari saya sendiri.Vina hanya melaksanakan tugasnya,dan dia melakukannya dengan baik.Dia sepatutnya mengkoreksi sesuatu yang salah.Walau terkesan keras,namun saya setuju dengan caranya.Karena cara yang dia lakukan itu adalah cara yang pernah saya ajarkan ke dia.Saya masih ingat dimana dia baru masuk perusahaan ini kurang lebih 20 tahun yang lalu,saya yang waktu itu berada di posisi dia sekarang,beberapa kali memarahi dia karena kinerjanya.Dan bukan sekali saya memarahinya,mungkin puluhan atau ratusan kali.Bahkan saking buruknya kinerja dia,beberapa petinggi sampai hampir turun tangan.Tapi,saya punya pandangan lain terhadap dia.Menurut saya waktu itu,dia punya potensi dan saya yakin itu.Saya bimbing terus dia,dan saya selalu titip satu pesan penting ke dia.


“Jikalau kamu mau sukses,,bersikaplah disiplin dan profesional,,”


Kata-kata itulah yang selalu saya tanamkan ke dia.Dan entah dia terapkan itu ke dalam dirinya atau tidak,hari ini jadi buktinya.Semua kerja kerasnya membuahkan hasil,bahkan melampaui saya.Posisi saya pun dia berhasil rebut 10 tahun yang lalu,dan bahkan sekarang dia sudah memegang beberapa posisi penting lainnya.Dan Vina bukanlah satu-satunya,banyak junior-junior saya waktu itu yang kini punya peran strategis di perusahaan ini.Ada kebanggaan tersendiri melihat mereka sukses sekarang.Namun juga tak bisa saya pungkiri,dibalik itu semua pasti ada beberapa orang yang jadi korban atau bisa dibilang tumbal dari kesuksesan mereka.Dan biasanya itu,seperti saya inilah contohnya,yang sudah berumur dan sering melakukan kesalahan.Dan hasilnya sudah banyak korbannya.Kolega saya yang usianya sekitar saya atau bahkan yang dibawah saya sedikit,sudah banyak yang keluar dari perusahaan.Namun saya tak bisa menyalahkan itu semua,karena saya sadar,hal ini bukan hanya terjadi disini,mayoritas perusahaan di seluruh dunia akan melakukan hal sama.Akan ada waktunya bagi karyawan seperti saya untuk digantikan.Saya sadar hal itu.


Namun,saya masih belum menyerah.Saya masih mau berjuang.Dan saya tak mau berhenti begitu saja.Walau saya sadar,diusia saya yang sudah 56 tahun ini,sulit rasanya bersaing dengan mereka-mereka yang masih jauh lebih muda daripada saya.Tapi jiwa saya masih ada,saya masih bisa bekerja,dan saya akan tunjukkan itu.


Beberapa hari berlalu.Saya melakukan kewajiban saya seperti biasanya di kantor ini.


“Pak Rudi,,tolong file presentasinya disiapkan,,” perintah Bu Vina.


Saya langsung sigap membuka berkas dokumen yang disuruh Bu Vina.Namun saat hendak saya cari file yang dimaksud,saya tersadar,saya melakukan kesalahan lagi.Saya lupa membawanya.


“Maaf Bu,,filenya ketinggalan,,”


“APAAA,,!!!”


Dia kaget dan teriak,membuat suasana meeting kali itu menjadi aneh.


“Aduh gimana ini Bu,,??”


“Saya sudah nunggu 1 jam sebelumnya buat datang meeting ini,,” kata salah satu klien.


“Saya juga,,bahkan saya sampai cancel satu acara buat meeting ini Bu,,” kata salah satu klien lainnya.


“Tenang Bapak-Bapak,,mungkin hanya nyelip,,”


“Coba Pak,,dicek lagi,,” Bu Vina memerintahkan saya untuk mencari filenya lagi.


Tapi saya tau,file itu memang tertinggal di rumah saya.Namun karena Bu Vina menyuruh saya langsung,saya coba mengecek dokumen presentasi yang ada di meja.Dan benar saja,setelah saya cek,memang tidak ada file itu.


“Maaf Bu,,filenya tidak ada,,”


“Aduh,,buang-buang waktu saya saja,,” kata salah satu klien.


“Kalo gitu proposal saya,,saya cancel saja Bu,,tidak profesional sekali perusahaan ini,,” lanjutnya sambil pergi meninggalkan ruang meeting.


“Saya juga,,saya kecewa sekali sama tim Ibu,,gak becus sekali mengurus hal seperti ini,,permisi Bu,,” ucap klien lainnya sambil juga berlalu pergi.


“Tunggu Pak,,”


Bu Vina keluar dan mengejar kedua kliennya yang tiba-tiba pergi itu.


Saya yang melihat itu,hanya bisa pasrah.Sebuah kesalahan kembali saya lakukan,dan saya juga sadar,kesalahan ini lebih fatal dari sebelum-sebelumnya.


“Ckckck,,Pak,,Pak,,hehe,,siap-siap Pak,,hehe,,” ucap Doni yang duduk di sudut meja dengan nada yang agak menyindir.


Saya tau itu,dan saya harus siap menerimanya.Tak lama berselang,Bu Vina kembali masuk ke ruang meeting,namun kali ini dengan ekspresi yang tampak jelas sudah emosi.


“Semua balik ke meja masing-masing,,!!” ucapnya dengan nada keras.


“Kecuali Pak Rudi,,Bapak,,ke ruangan saya sekarang,,!!” lanjutnya sambil kali ini menunjuk ke arah saya.


Rekan-rekan yang lain keluar dan kembali ke meja kerjanya masing-masing,sedangkan saya seperti yang disuruh oleh Ibu Vina,mengikutinya ke ruangan kerjanya.Dan begitu sudah di dalam ruangannya,tiba-tiba dia memukul mejanya dengan keras.


‘BRAKKK,,!!!!’


“Saya sudah lelah ya Pak,,!!”


“Ini sudah kesekian kali Bapak melakukan kesalahan,,dan ini yang sangat fatal,,”


“Saya gak tau harus bicara apa lagi ke Bapak,,”


Dia sangat marah sekali kepada saya.Raut wajahnya tampak emosi sekali,hingga beberapa kali dia menghela nafas panjang.


“Sekarang begini saja,,”


“Siang ini saya akan rapat dengan dewan direksi,,dan saya akan usulkan ke dewan untuk Bapak diistirahatkan,,”


“Saya sudah gak punya alasan lagi untuk mempertahankan Bapak disini,,”


“Jadi untuk itu,,sambil menunggu hasil rapat,,Bapak saya izinkan untuk pulang lebih dulu,,dan kembali lagi besok pagi disini,,diruangan saya,,”


Akhir pertemuan itu,saya 'terpaksa' dipulangkan lebih cepat.Saya tak punya pilihan selain mengikuti perintahnya.Dengan hati kecewa,saya pun pulang ke rumah.Jujur sekali,saya kecewa,namun saya kecewa bukan karena Ibu Vina,tapi saya kecewa di diri saya sendiri.Saya tak bisa menunjukkan kinerja yang baik.Saya juga tak bisa menunjukkan rasa semangat di hati dan pikiran saya ke kinerja saya.


Sesampainya dirumah,saya tak melakukan kegiatan apapun,saya hanya bisa berbaring di kasur sambil terus memikirkan hal yang tadi saya alami.


Waktu tak terasa hingga malam hari tiba,istri saya tercinta akhirnya pulang.Dia melayani saya penuh cinta seperti biasanya,walau baru kali ini dia tak banyak bicara seperti sebelumnya.Saya tau kenapa dia bersikap begitu,karena dia tau apa yang saya alami hari ini.Bahkan mungkin dia tau lebih detail masalah yang saya alami,karena istri saya ini adalah salah satu dewan direksi.Wulan,istri yang saya persunting 20 tahun lalu juga kurang lebih sama seperti Ibu Vina.Berawal sebagai bawahan,dengan saya sebagai atasannya,kini istri saya sudah jauh melebihi karir saya.Karakternya yang menyenangkan,membuat saya tertarik kala itu.Hampir sama dengan Ibu Vina,diawal istri saya bergabung di perusahaan,saya mementori dia dengan cukup tegas dan disiplin.Walau seiring berjalannya waktu,kami jadi saling jatuh cinta,tapi tetap,rasa profesional kami tetap kami jalankan saat bekerja.


Istri saya paham apa yang tengah saya alami hari ini.Dia memberi saya waktu sendiri dan tak membahas sedikitpun tentang pekerjaan sampai waktunya tiba.Lalu setelah dirasa tepat,dia baru membahas hal itu.


“Pah,,kamu kena masalah lagi ya,,??”


Dia bertanya dengan halus pada saya.


“Iya Mah,,maafin Papah,,”


Dia tampak sedih dan mencoba mengerti.


“Mamah sudah dengar dari Vina,,”


Dia menghela nafas sejenak.


“Dan menurut Mamah,,memang sudah waktunya Pah,,”


“Tahun depan Papah sudah masuk masa pensiun,,”


Saya sadar hal itu,tapi saya rasa saya masih bisa.


“Tapi Mah,,Papah masih bisa,,”


Dia terdiam sejenak.


“Mamah mengerti,,tapi maaf Pah,,kenyataannya kamu sudah gak bisa,,”


Saya marah dan tak terima.


“Tapi Mah,,Papah masih sanggup kok,,Papah masih semangat,,Papah masih bisa bergerak,,Papah masih bisa berpikir,,Papah juga masih bisa produktif,,”


“Mamah mengerti Pah,,” katanya sambil mengelus halus pundak saya.


“Mamah tau Papah sudah bekerja keras,,tapi,,yang menilai itu semua berkata lain Pah,,”


“Papah sudah gak bisa bersaing lagi,,”


Saya diam saja.Saya masih tak terima dicap sudah tak kompeten lagi.


Suasana menjadi tegang.Kami berdua membisu.Cukup lama kami berdua terdiam,sampai akhirnya istri saya menarik halus wajah saya.


“Pah,,,”


“Aku tau ini berat buat kamu,,tapi,,memang ini sudah jalannya,,”


Saya tentu masih tidak terima.


“Papah tau Mah,,tapi Papah masih bisa,,dan Papah akan buktikan itu,,”


Saya menolak opininya dengan halus,karena saya yakin,saya masih bisa.Setelah saya tunjukan opini saya padanya,dia tak membalasnya.


'Sighh,,' Dia menghela nafasnya.


“Ya sudah,,Mamah paham,,”


Dia akhirnya mengerti.


“Ini sudah malam,,sekarang tidur lah Pah,,tak usah terlalu dipikirkan,,aku gak mau kamu sakit gara-gara hal ini,,”


Setelah berkata,dia mencium pipi saya.Saya juga mengerti perasaannya.Dia sebenarnya tak tega melihat saya dalam situasi seperti ini.Apalagi sebagai orang yang lebih mengerti saya,dia tentu khawatir akan kondisi saya.Dia tau kalo saya sudah di usia yang sebenarnya tak boleh berpikir terlalu keras,apalagi juga bergerak lebih keras.Tapi dia juga tau karakter saya.Karakter yang sebenarnya untuk sekarang ini seharusnya sudah saya kikis.


Setelah perbincangan singkat itu,kami berdua akhirnya tidur.


Lalu esok harinya.Saya dan istri saya seperti biasa kembali ke rutinitas kerja.Sambil menunggu perintah dari Ibu Vina yang dipesan ke saya,saya melakukan kegiatan yang seperti biasa saya lakukan.Di saat saya sedang mengerjakan sebuah dokumen,tak sengaja saya mendengar selentingan suara yang tengah membahas saya.


“Gak lama lagi sih kata gw,,”


“Iya sih,,paling entar sore dipecat,,”


“Kayaknya bro,,susah sih,,udah tua juga,,”


“Bener bro,,lu inget gak event orgy kemaren,,?? Kita belom mulai,,udah crot duluan wkwkwk,,”


“Inget gw bro wkwk,,mana abis itu langsung tepar lagi wkwk,,”


“Maklum bro,,udah jompo wkwk,,”


“Iya mending kata gw cabut sih,,daripada jadi pajangan doang disini wkwk,,”


“Bener tuh bro,,gak guna juga,,yang ada kita-kita lagi yang kena imbasnya juga,,mana cewe-cewe disini ganas lagi,,”


“Setuju sih,,udah kerjaan salah mulu,,ngewe juga gak bisa,,”


“Yoi bro,,malah nambah tugas kita,,”


“Bener,,bener,,”


Anak-anak itu bicara di belakang saya.Namun saya tak heran,karena ini selalu ada hampir setiap hari.Saya tidak bisa marah,karena memang yang mereka bicarakan itu fakta.Justru saya merasa malu mendengar itu semua.Untuk yang satu itu,saya akui memang saya sudah tak seperti dulu.Kondisi fisik saya yang semakin menua,berdampak besar ke hal-hal penting lainnya.Contohnya saja tentang seks.Sebuah kegiatan yang lumrah di dunia ini,kini sudah berkurang saya lakukan.Bahkan di 5 tahun terakhir,frekuensi saya melakukan kegiatan seks semakin berkurang.Puncaknya tahun ini,saya hanya satu kali bercinta dengan istri saya,dan itu pun hanya berdurasi tak lebih dari 2 menit.Jujur,untuk hal yang satu itu,membuat saya sedih dan sempat depresi.Namun saya beruntung ada istri saya yang selalu menemani dan tetap menerima kondisi saya akhir-akhir ini.Tapi walau begitu,saya tetap saja merasa bersalah.Sebagai suaminya,saya belum bisa membuahinya lagi.Terakhir sudah hampir 25 tahun yang lalu,saya memberinya benih anak.Saya tak tau perasaan dia sebenarnya soal ini,karena saya sendiri takut bertanya.Saya hanya berusaha memenuhi kebutuhannya,apapun caranya.Salah satunya,membiarkan dia memilih laki-laki yang dia mau.Saya tak masalah dia hamil dengan siapapun,asalkan status dia masih menjadi istri saya.Dan 2 anak terakhir kami berdua lah buktinya.Kami pun bahagia hidup berlima sebagai keluarga.Namun sekali lagi,sebagai laki-laki,saya merasa sedih ke diri sendiri dan juga masih ada rasa bersalah pada istri saya sendiri.


Saya hiraukan saja omongan anak-anak itu.Toh lagipula saya juga tak diterima oleh mereka.Gap yang sangat jauh,membuat saya dan mereka sulit mengerti satu sama lain.


Tak lama dari itu,Bu Vina datang.Anak-anak tadi yang tengah asik berkumpul,tiba-tiba berlarian kembali lagi ke tempatnya.Saya sendiri tak heran melihat tingkah mereka.Anak-anak muda dengan mentalitas rendah.


“Pak Rudi,,ke ruangan saya sekarang,,”


Bu Vina memanggil saya seraya melintas di depan meja saya,dan saya pun mengikutinya.


“Silahkan duduk Pak,,”


Saya mengikuti perintahnya.Saya duduk tepat menghadapnya.


“Pak Rudi,,saya sudah sampaikan penilaian kinerja Bapak ke dewan direksi kemarin,,”


“Dan dewan direksi juga sudah memberi jawabannya,,”


“Sebelum itu,,mereka mengapresiasi kinerja serta pengabdian Bapak di perusahaan ini selama bertahun-tahun sampai saat ini,,”


“Namun,,Bapak harus paham,,waktu terus berjalan,,dan semua akan tergantikan pada waktunya,,”


Saya sudah tau kemana arah pembicaraan ini.


“Dan saya rasa,,ini waktunya,,”


“Tapi Bu,,saya masih sanggup,,”


Saya berusaha bertahan.


“Saya mengerti Pak,,tapi maaf,,kenyataannya tidak bisa,,”


Saya seakan harus menerima kenyataan.Saya seakan dipaksa untuk menerima opininya.Saya pun sadar,saya sudah tua.Tapi saya juga punya pandangan lain.Saya masih bisa.Saya masih mampu,dan juga saya masih bisa bersaing.Jiwa saya masih sama,saya masih mau berjuang seperti yang lainnya.


“Maka dari itu Pak,,saya dengan terpaksa,,,,,,”


Tiba-tiba telfon kantor di dekatnya berbunyi,membuatnya kata-kata yang hendak dia sampaikan terhenti sejenak.


“Iya Bu,,,” katanya menjawab panggilan telfon.


Saya rasa memang inilah waktunya.Beliau sudah mengucapkan kata-kata itu.Saya sudah tau maksudnya,walau belum sempat dia mengatakan sepenuhnya.Saya hanya bisa pasrah,walau hati saya masih ingin bertahan.Sekarang,saya hanya tinggal menunggu apa yang akan dia pilih.Dan apapun pilihan Ibu Vina,saya tau akhirnya pasti akan sama.Saya memang sudah tak akan lagi bekerja disini.


Cukup lama saya menunggunya berbicara dengan seseorang di saluran telfon.Entah dengan siapa dia bicara.Namun yang saya lihat,kemungkinan besar salah satu petinggi di perusahaan ini.


“Baik Bu,,,,”


Setelah perbincangan yang cukup panjang,akhirnya dia menutup telfonnya.


“Pak Rudi,,barusan saya mendapat kabar dari dewan direksi,,dan mereka memutuskan untuk memberikan Bapak kesempatan satu kali lagi,,”


Saya kaget dan tak percaya.Keajaiban itu datang pada saya.Saya masih ada harapan disini.


“Tapi,,ada syaratnya,,”


“Bapak harus bisa menunjukkan kinerja Bapak kepada saya beserta dewan direksi hari ini,,”


“Tepatnya nanti sore pukul 4,,akan ada klien kita yang akan datang kesini,,”


“Dan Bapak akan saya kasih tugas untuk melayaninya langsung sendiri,,”


“Kami akan menilai langsung kinerja Bapak berdasarkan meeting itu,,”


“Dan jikalau Bapak tidak menunjukkan ke saya dan juga dewan direksi kinerja Bapak nanti,,dengan berat hati,,Bapak Rudi,,kemungkinan besar akan kami istirahatkan,,”


“Jadi,,segitu saja dulu Pak,,silahkan kembali lagi ke tempat Bapak,,nanti begitu klien kami datang,,Bapak saya panggil lagi,,saya harap nanti Bapak bisa menunjukkan ke saya dan direksi,,kemampuan terbaik Bapak,,”


“Silahkan Pak,,,”


Dia berdiri dan menuntun saya keluar dari ruangannya.Setelah itu,saya pun kembali ke meja saya dan melanjutkan tugas saya seperti biasa.


Saya bekerja dengan hati yang sementara ini bercampur aduk.Ada rasa senang,saya masih dikasih kesempatan.Tapi ada rasa tersinggung juga,saya hanya diberi satu kesempatan setelah apa yang saya berikan ke perusahaan ini selama bertahun-tahun.Ada juga rasa penasaran akan siapa klien yang akan saya dampingi nantinya.Dan karena itu juga,muncul rasa khawatir dan sedikit ketakutan.Saya takut tak bisa maksimal.Saya mewajarkan itu,karena sudah sekian lama saya tak melakukan ini sendiri.Saya khawatir,saya lupa caranya.Namun dibalik keraguan dan ketakutan itu,entah kenapa,ada sedikit rasa optimis dari dalam hati saya.Saya yakin saya bisa.Saya pernah melakukan ini sebelumnya.Dan saya juga ingin menunjukkan ke mereka,kalau saya bisa.


Diselimuti pikiran yang sangat penuh ini,tak terasa jam istirahat tiba.Saya seperti biasa ke kantin untuk mengisi tenaga.Satu meja di pojok ruangan,menjadi spot saya menikmati waktu istirahat sendiri.Meja yang sudah saya tempati selama bertahun-tahun untuk menemani saya makan siang.Di meja ini,terkadang memori saya suka  teringat sekilas masa-masa dimana meja ini menemani perjalanan karir saya di kantor ini.Pernah ada masanya,meja sempat menjadi tempat penting bagi saya dan rekan-rekan kerja saya dulu.Saya sering kali menjadi meja ini sebagai pengganti meja meeting kala saya masih menjadi manager bertahun-tahun yang lalu.Bahkan lebih dari itu,meja ini adalah saksi dari banyak kejadian penting antara saya dengan bawahan saya kala itu.Namun dengan berjalannya waktu,nasib saya dan meja ini,tampaknya tak jauh berbeda,yang kini menjadi sosok minor di kantor ini.Mereka lebih memilih menempati meja lain untuk mereka tempati.Saya tak bisa menyalahkan mereka,sebab mereka disini sebagian besar belum ada di waktu itu.Dan saya juga tak bisa memaksa mereka untuk menempati meja ini.Saya pun sadar,saya juga tak bisa bergabung dengan mereka.


Selepas menikmati waktu sendiri saya,saya langsung kembali ke meja kerja saya,meninggalkan mereka yang masih banyak mencoba mencuri waktu.Dan disaat saya hendak kembali,saya tanpa sengaja berpapasan dengan istri saya.Namun karena ini masih dalam lingkungan kerja,tentu saya tak bisa menganggapnya seperti itu.


“Bu,,,”


Saya menunduk dan memberi salam padanya.Dia melihat saya dan juga membalas salam saya.Saya tak berkata lebih banyak,dan hendak kembali ke meja saya.Namun ketika saya hendak melaluinya,beliau menahan saya.


“Pak Rudi,,”


Saya berhenti dan berbalik badan.


“Iya Bu,,”


Dia memegang lengan saya dan menatap saya.


“Pak,,jangan kecewakan saya ya,,karena saya sudah melakukan yang terbaik buat Bapak,,”


“Saya sudah berusaha untuk meyakinkan para direksi untuk tetap mempertahankan Bapak disini,,”


“Jadi tolong,,tunjukkan ke kami kalau Bapak masih mau bertahan disini,,”


“Tunjukkan ke kami kalau Bapak masih yang terbaik,,oke,,??”


Dia tersenyum pada saya.Saya bisa melihat aura positif darinya.Saya tersentuh dan juga ikut termotivasi akan kata-katanya.


“Baik Bu,,”


Dia tersenyum lebar.


“Oh iya,,satu hal lagi,,”


“Kemungkinan besar,,malam ini saya tidak pulang ke rumah ya Pak,,soalnya ada hal yang harus tembus ke dewan direksi,,” ucapnya sambil tersenyum kecil.


“Semangat ya Pak,,saya yakin Bapak bisa melaluinya,,”


Dia tersenyum,kemudian setelah itu beliau berlalu pergi.


Setelah pertemuan singkat itu,saya tiba-tiba merasa yakin.Keraguan saya perlahan luntur.Saya mulai optimis.Apalagi setelah mendengar kata-kata semangat dari beliau,saya semakin yakin,saya akan bertahan disini.Dan setelah melihat setetes air mani yang masih melekat di pipinya tadi,membuat saya juga ikut terpacu.Saya tak mau mengecewakan dia,karena saya tau dia sudah mempertaruhkan tubuhnya demi saya.Jadi,tak ada alasan lagi saya untuk takut.


Sambil menunggu waktunya,saya tetap fokus mengerjakan tugas seperti biasa.Dan seperti biasa juga,anak-anak itu tetap dengan perilakunya yang suka seenaknya.


“Psstt,,bro,,lu tau gak,,gw dapet info,,denger-denger Pak Rudi bakalan beneran dipecat hari ini bro,,”


“Yang bener lu,,??”


“Iya bro,,beneran,,”


“Bagus lah,,biar cepet-cepet keluar dah tuh tua bangka,,”


“Tapi masalahnya,,dia masih di tes dulu sama bos,,”


“Tes,,?? Maksud lu gimana,,??”


“Tes ngelobi,,”


“Lobi,,?? Dia,,?? Wkwkwk,,,”


“Wkwkwk,,,ah palingan juga gagal,,ngaceng aja susah,,wkwkwk,,”


Tak lama setelah itu,tiba-tiba seorang wanita lewat di depan meja kerja kami.Wanita itu berjalan melewati saya dan anak-anak itu hingga menuju ke ruangan Bu Vina.


“Pssstt,,kayaknya itu deh kliennya,,”


“Itu bro,,?? Wah,,gak ada harapan sih,,”


“Kenapa bro,,??”


“Gw udah pernah nemenin dia,,kacau bro,,”


“Kacau gimana maksud lu,,??”


“Dia itu manager cabangnya PT.Sexcom,,Bu Wilda namanya,,gw pernah nemenin dia,,dan hasilnya zonk,,”


“Proposal gw ditolak semua,,”


“Udah gitu,,3 ronde gw ewe dia,,dia gak puas-puas,,dengkul gw sampe kopong ngelayanin dia,,”


“Segitunya bro,,??”


“Iya bro,,kapok dah gw ngelayanin dia,,udah gitu,,dia itu kayak punya power ke direksi,,lu pada inget gak,,5 bulan yang lalu,,yang gw diskors,,itu gara-gara dia,,”


“Oh gara-gara itu,,wah,,parah banget berarti dia bro,,”


“Parah banget asli,,untung aja gw kagak dipecat itu hari,,”


“Wahh,,ini sih jalan buntu,,elu aja KO,,gimana Pak Rudi,,”


“Kalo kata gw sih,,fix dipecat sih,,”


“Bener juga bro,,udah gak ada harapan lagi dia,,”


Saya tak sengaja mendengar itu semua.Saya yang sebelumnya optimis,mulai kembali diselimuti ketakutan.Saya mulai membayangkan kalau dialah ujian saya.Dalam hati saya mulai berharap,agar dia bukanlah calon klien yang akan saya hadapi.


Di tengah rasa khawatir,tiba-tiba Bu Vina keluar dari ruangannya.Beliau lalu memanggil saya.


“Pak Rudi,,”


Saya mendekatinya.


“Pak,,ini kesempatan Bapak,,”


“Di dalam ada Ibu Wilda,,beliau adalah manager cabang dari PT.Sexcom,,”


“Saya kasih kesempatan Bapak untuk membuat Ibu Wilda terkesan,,dan usahakan agar proposal kita bisa di terima oleh beliau,,”


“Karena ini akan menjadi penilaian kami terhadap Bapak selanjutnya,,”


“Gimana Pak,,?? Siap,,??”


Saya yang masih tertutup keraguan,terpaksa harus siap.Saya tak punya pilihan lain.


“Siap Bu,,”


“Oke,,siapkan dokumen-dokumen proposal kita Pak,,”


Saya kembali ke meja saya untuk mengambil beberapa berkas dokumen.Lalu setelah terkumpul,saya kembali menghadap Bu Vina.


“Sudah Pak,,??”


Saya tidak menjawab,karena masih gugup,alhasil saya hanya bisa mengangguk pelan.


“Oke,,kalo begitu,,mari Pak,,”


Bu Vina membuka pintu ruangannya.Beliau masuk dengan diikuti saya dibelakangnya.


“Maaf menunggu lama Bu,,”


Saya melihat calon klien saya tengah duduk santai di atas sofa.Wanita yang saya taksir berusia mungkin setara dengan Ibu Vina.Cantik dan sangat berkarakter jika saya lihat.Tubuhnya juga terlihat masih sangat menarik bagi laki-laki yang melihatnya.Saya pun cukup tertarik.Namun,karena umur saya sudah mulai menua,hormon saya juga ikut terdampak.Ditambah lagi,saya tengah di posisi yang sulit dan butuh konsentrasi lebih.


“Perkenalkan,,ini Bapak Rudi,,beliau yang akan mempersentasikan prosposal kami kepada Ibu,,”


Bu Vina memperkenalkan saya ke Ibu Wilda.


“Silahkan Pak,,”


“Saya kasih waktu untuk Bapak,,”


“Dan untuk itu,,saya permisi dulu Bu,,Pak,,”


Setelah memberi saya waktu dan sekaligus meminta izin ke Ibu Wilda,Bu Vina lalu keluar dari ruangannya.


“Cihh,,yang benar saja Vina,,tak ada yang lain lagi kah,,??” bisiknya.


Walau dengan nada yang sangat kecil,saya bisa dengan jelas mendengarnya.Dari intonasinya,saya bisa pastikan dia cukup kesal.Ditambah,raut wajahnya tampak tak bersahabat,melihat kehadiran saya dihadapannya.Melihat responnya,mental saya agak down.Gugup mulai merasuki pikiran saya.


“Ma,,ma,,maaf Bu,,”


Suara saya terbatah-batah.Pandangan saya tak berani menatapnya.Kepala saya tertunduk,tak bisa terangkat.


“Huftt,,,”


Dia tiba-tiba menghela nafas panjang.


“Pak,,jangan buang-buang waktu saya,,!!” bentaknya.


“Cepat berikan proposal kalian ke saya,,!!”


“Saya kasih Bapak waktu 10 menit untuk menjelaskan,,”


“Kalau Bapak tidak bisa,,saya tidak akan lagi datang kesini,,”


Bu Wilda tampak marah.Wajahnya tampak sudah mulai tak puas melihat impresi pertama saya.Saya semakin tertekan.Saya tak menyangka langsung begini jadinya.Tapi saya mencoba tenang.Saya mencoba menguasai kembali situasi.Dengan sebuah tarik nafas kecil,saya coba memulai.


Perlahan saya coba melakukan tugas saya.Saya coba mengambil hatinya.Kata demi kata saya rangkai,mencoba membuatnya terpikat.Detik demi detik saya coba manfaatkan dengan baik.Saya susun kata dengan baik,sambil berharap bisa meluluhkan hatinya.Perlahan saya mulai menemukan ritmenya.Dengan modal pengalaman yang saya lalui,saya coba praktekkan kembali di situasi ini.Dan hasilnya,saya mulai percaya diri.Hingga tak terasa,10 menit yang beliau berikan,saya tutup dengan sempurna.


“Jadi bagaimana Bu,,?? Proposal dari kami,,??”


Dia membuang mukanya.


“Sighhh,,,”


“Sama saja ternyata,,”


Usaha saya ternyata gagal.Dia masih kecewa ternyata.


“Sudahlah,,!! Buang-buang waktu saja saya disini,,”


Dia tampak kesal dan langsung berdiri.Raut wajahnya tajam penuh amarah.


“Saya sudah cukup mendengar omong kosong kalian semua,,!!”


“Tak ada satu pun dari kalian semua yang bisa memuaskan saya,,!!”


“Saya gak habis pikir apa yang ada dipikiran bos kalian,,.mengutus orang-orang yang gak becus untuk melayani saya,,!!”


“Terakhir saya kesini,,saya dilayani bocah ingusan yang gak bisa apa-apa,,!!”


“Sekarang,,,,”


Dia melihat saya dengan tajam.Sorot matanya menilai saya dari atas sampai bawah.


“Bapak-bapak jompo,,”


“Yang benar saja,,!!”


“Sudahlah,,saya pergi saja dari sini,,”


Saya langsung tersulut emosi.Kata-katanya membuat saya tersinggung.Amarah saya seketika menutup hati saya.Logika saya sudah tak bisa menguasai saya lagi.


Tanpa sadar,saya tarik rambutnya dengan kasar saat dia hendak beranjak keluar.Dia kaget dan menjerit kencang.


“AAAAAA,,,,!!!!”


“Apa-apaan ini,,,!?!?!?,,”


Dia mencoba berontak.


'PLAKKKKK,,,!!!’


Saya tampar pipinya dengan keras.Dia pun jatuh tersungkur.


“Aarrghhh,,,aaaa,,ampun Pak,,,ampun,,,,”


Dia menjerit dan mulai menangis.Saya tak perduli.Saya tarik lagi rambutnya hingga membuatnya berdiri kembali.Dan ketika dia bangun lagi,saya tampar lagi pipinya,dan kali ini semakin keras.Dia pun terjatuh lagi.


“Ampun Pak,,,ampun,,,”


Dia memelas.Namun saya malah makin beringas.Otak saya sudah tak bisa menahan emosi.Berulang kali,pipinya menjadi korban keganasan saya.


Hati saya sudah tertutup emosi.Saya sudah hilang akal.Kata-katanya tadi sepeti pemantik untuk saya menjadi buas.Otak saya sudah tak bisa berfikir jernih.Saya seperti sudah tak peduli apapun.


Kondisi Bu Wilda makin kacau.Pipinya makin merah lebam,bekas tangan saya.Rambutnya pun acak-acakan tak jelas.Matanya sembab,terus mengeluarkan air mata.Dan situasi itu semakin buruk,lantaran saya tak kunjung berhenti menyiksanya.


“Sini kamu,,!!!”


Saya yang masih buta,lantas menarik rambut kembali.Saya buka resleting saya,dan memaksanya untuk mengulum penis saya.


“Nih,,,sepong,,CEPAT,,!!!!”


Dia coba meronta.Namun tenaga saya lebih kuat.Saya tahan kepalanya dan saya benamkan penis saya yang masih tertidur itu ke dalam mulutnya.


“Isap,,CEPAT,,!!!”


Dia masih tak mau menuruti perintah saya.Bahkan dia masih coba melepaskan diri.Saya pun makin emosi.Saya tampar pipinya sekali lagi.Dia pun terdiam dan sambil menahan tangisnya.Melihatnya sudah tak berdaya,saya paksa lagi dirinya.Saya benamkan lagi penis saya.


“CEPAT,,!!”


Dia melirik saya dengan tatapan ketakutan.Saya tak peduli.Alhasil,perlahan dia pasrah.Dia akhirnya mau mengulum penis saya.Pelan-pelan dia menservis penis saya dengan lidahnya.Saya pun mulai terangsang.Penis saya perlahan mulai mengeras.Saya kaget dan mulai merasakan hal yang berbeda.Saya mulai kembali merasakan sesuatu yang beberapa tahun hilang.Saya mulai kembali bergairah.Saya merasa kembali muda.Dan semakin lama,rasa itu semakin kuat.Rasa ingin bercinta kembali.


Penis saya semakin keras.Dan saya semakin bersemangat.Saya jejalkan penis saya semakin dalam di mulutnya.Dia coba meronta,namun saya tak tinggal diam.Saya cengkram kepala,sambil sesekali saya pukul kepalanya sampai membuatnya terdesak.Itu saya lakukan berulang kali,sampai membuatnya lemas tak berdaya.


Melihat dia tergeletak tak berdaya.Saya segera melucuti semua pakaian saya.Dia yang melihat itu,coba mengambil kesempatan.Perlahan dia merangkak mencoba kabur dari saya.Tapi saya tau itu.


“Hehe,,,mau kemana sayang,,”


Saya jambak rambutnya hingga membuatnya berdiri.


“Aaagghhhh,,,ampun Pak,,”


Saya hanya tersenyum melihatnya tersiksa.Saya sudah benar-benar tak waras kala itu.


“Saya belum kasih proposal terakhir loh Bu,,”


Saya menyeringai.Saya menatap saya dengan penuh ketakutan.


“Sudah Pak,,saya mohon,,”


Dia memelas.


“Tolong lah Bu,,dengarkan proposal saya dulu,,kalo tidak,,saya bakal dipecat,,”


Dia tak peduli,dan masih coba melepaskan diri.


“Saya tidak mau Pak,,lepaskan saya Pak,,saya mohon,,”


Dia mulai berontak.Dan kini semakin kuat.Ketakutannya mulai berubah.Dia mulai berani melawan lagi.


“Tolong lah Bu,,”


Dia tak menjawab,dan terus melepaskan diri dari cengkeraman saya.


“Tolong saya Bu,,”


“Saya tidak mau,,lepaskan saya sekarang,,!!!”


Saya coba memintanya lagi.


“Bu,,,,,”


Namun kali ini tiba-tiba dia berhenti melawan.Dia menatap saya penuh emosi.Lalu tanpa saya diduga,dia tiba-tiba meludahi wajah saya.


'Cuihhhh,,,'


Saya kembali tersulut emosi.Dan kali lebih ganas.Saya lepas dia dan langsung saya pukul perutnya dengan keras.Dia pun langsung ambruk ke lantai.


“Aarrrrghhh,,,,” pekiknya.


Saking kerasnya pukulan saya,dia nyaris saja pingsan.Dia lemas tak berdaya,menahan rasa sakit di tubuhnya.Saya melihat kesempatan disana.Saya lucuti semua pakaiannya dengan paksa.Dia tak melawan sama sekali.Lepas dia telanjang,saya tarik lagi tubuhnya untuk bangkit.Saya hempaskan tubuhnya di meja Bu Vina.Kepalanya saya tempelkan diatas meja,sedang badannya saya pepetkan di meja,membuatnya dalam posisi menungging.Dan tak ambil lama,saya langsung masukkan kontol saya ke dalam memeknya.Dia melenguh pelan,saking lemasnya.Saya pun langsung menggenjotnya dengan keras.


'Plok,,Plok,,,Plok,,,,'


Suara pertemuan antar kulit kami terus bergema dengan kencang.


“Huh,,enak kan Bu kontol saya,,ssshhh,,”


‘PLAK,,,!!!’


“Gimana rasanya dengan entot pake kontol saya,,huh,,?!?”


‘PLAK,,,!!!’


“Jawab Anjing,,!!”


'PLAKKKKK,,,!!’


Saya terus meracau sambil menampar pantatnya berulang kali.Dia tak menjawab.Hanya keluar suara desahan saja dari dalam mulutnya.


“Hey,,Anjing,,!! Jawab,,!! Enak gak,,!?!?,,”


Saya tanya dia sekali lagi.Dan kali ini sambil saya tarik rambutnya.Dia memekik.


“Jawab,,!!!”


Dia masih saya tak menjawab.Saya pun makin buas.Saya cekik lehernya sambil tetap saya genjot memeknya.Beberapa detik saya cengkeram lehernya dengan kuat.Wajahnya pun mulai berubah merah pekat.Dia mulai tampak kesulitan bernafas.Jemarinya mulai coba melepaskan cengkraman saya di lehernya.Namun dia kalah kuat,hingga akhirnya dia mulai menyerah.Melihat dia semakin tersiksa,saya akhirnya melepaskan cengkraman saya di lehernya.Dia pun langsung bernafas dengan kencang,seolah mengambil oksigen yang sempat tadi saya rampas darinya.Saya tersenyum penuh kemenangan melihatnya.Setelah sekian lamanya,saya akhirnya merasakan apa yang sempat saya alami dahulu kala,yaitu sebuah dominasi.Saya kembali hidup.Peran yang sempat hilang itu,saya rasakan lagi kali ini.Rasa dimana saya bisa mengalahkan lawan saya.Rasa dimana saya bisa mengontrol lawan saya.Dan rasa dimana saya bisa menghancurkan lawan saya.Semua itu saya rasakan kali ini.Setelah bertahun-tahun terpuruk dengan rasa pesimis saya sendiri,kali ini saya berhasil buktikan kalau saya masih bisa.Saya masih bisa bertarung,dan saya akan lakukan itu sampai saya mati.


Cukup lama saya genjot dia dengan kencang.Alhasil,perlahan pertahanan saya mulai habis.Walau saya telah kembali,namun umur tak bisa membohongi saya.Peju saya tampak sudah tak tahan hendak keluar.


“Bu,,,shhh,,,ini dia proposal terakhir saya,,,shhhh,,,”


Begitu peju saya sudah berada diujung,saya langsung cabut penis saya dari vaginanya.Dan kemudian saya langsung tarik rambutnya.


'Croottt,,crootttt,,,crrootttttt,,,'


Saya ejakulasi di wajahnya.Beberapa kali wajahnya saya siram dengan peju saya hingga wajahnya tertutup penuh.Dan setelah saya puas,saya hempaskan tubuhnya ke lantai begitu saja.Dia pun tampak tak berdaya.


Setelah yang barusan saja terjadi,saya memakai pakaian saya kembali dan langsung pergi dari ruangan itu,meninggalkan dia yang sudah tak karuan di dalam.


Ketika saya keluar dari ruangan,anak-anak disana terdiam sambil melihat saya.Saya merasa sorotan mereka seperti membuat derajat saya meningkat.Saya berhasil membuktikan ke mereka,kalau saya masih bisa.


Dan pas saya berjalan,tepat di ujung lorong,Ibu Vina menunggu saya.


“Pak,,wow,,,eee,,persentasi yang menakjubkan,,eee,,”


Dia terbatah-batah.Dia tampak bingung harus berkata apa.Saya melihat itu sebagai sebuah kemenangan atas dirinya.Selalu disalahkan,kini saya berhasil buktikan padanya kalau saya masih yang terbaik.


“Mungkin,,eee,,saya,,”


Saya potong ucapannya.Saya tarik blazernya,dan saya pegang dagunya.


“Hey Vin,,kasih tau bos-bos mu itu,,kalau saya tidak akan keluar dari sini,,”


“Saya tau apa yang kalian rencanakan kepada saya,,”


“Saya masih bisa bekerja,,dan saya masih bisa bersaing disini,,”


“Dan saya akan buktikan itu,,”


Dia terdiam.Saya berhasil menanamkan itu di otaknya.Dan saya yakin,dia paham itu.Selepas mendoktrin dia,saya langsung pergi meninggalkan dia yang mematung.Saya berjalan kembali menuju ke meja saya,dan kembali melakukan tugas seperti biasanya,namun kali ini dengan aura yang berbeda.Hati dan pikiran saya kembali cerah.


‘Saya tak akan menyerah,,'


'Saya masih bisa,,'


'Dan saya tidak akan pensiun,,!!’

Komentar

  1. SAYA BELUM PENSIUN!!!

    Saya cuma menghilang saja๐Ÿ˜

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akhirnyaaaa..makasihhh suhuuu..lanjutken mahakaryamu suhuu

      Hapus
  2. kok gua Gedeg sendiri sama si kakek ya wkwkw

    BalasHapus
  3. Masih terlalu normal hu๐Ÿคฃ

    BalasHapus
  4. bikin edisi tahun baru huuu. kaya pesta gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah pernah ane bikin di forum..silahkan di cek disana๐Ÿ˜Š

      Hapus
  5. Kapan lagi ni hu? Masa iya 2 bulan sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemaren 2 bulan mana tau 3 bulan sekali wkwkkw

      Hapus
  6. Ayo jangang lama2 lagi gan updatenya ✌️

    BalasHapus
  7. ayo update lg donggg

    BalasHapus
  8. 13 februari update ni hahaha

    BalasHapus
  9. Besok udah februari tanda tidak ada

    BalasHapus
  10. Malah pensiun beneran

    BalasHapus
    Balasan
    1. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

      Hapus
  11. Dahlah hilang harapan

    BalasHapus
  12. hu coba bikin cerita pertemuan keluarga besar, tapi jadi pertemuan kelamin besar keluarga wkwkw

    BalasHapus
  13. Udah bubar bubar ges udah mau maret ga update2

    BalasHapus
  14. Suhu kapan comeback lagi

    BalasHapus
  15. Anjas 3 bulan hilang tak ada kabar

    BalasHapus
  16. Real pensiun ini mah 4 bulan ga update2

    BalasHapus
  17. Buset udah 5 bulan mana ni?

    BalasHapus
  18. Ada yg tau alternatif blog kaya gini?

    BalasHapus
  19. Udah ga niat lagi suhunya bikin cerita

    BalasHapus
  20. Ayokkk suhuu..apdet donggg..kangen karyamu suhuu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Dewasa

Aku Dan Muridku (Part 1)

Puasa